ANTARGASMEDAN – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, aktris sekaligus ibu muda Nikita Willy mulai memperkenalkan makna puasa kepada anak-anaknya.
Istri Indra Priawan ini memilih pendekatan bertahap dan berkesadaran, tanpa paksaan, serta disesuaikan dengan kesiapan fisik dan emosional anak, agar nilai ibadah dapat dipahami secara alami sejak dini.
Nikita menilai pengenalan puasa tidak harus langsung menuntut anak untuk menjalankannya secara penuh.
Menurutnya, anak perlu diberi ruang untuk mengenal makna Ramadhan melalui kebiasaan dan contoh dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan cara tersebut, anak dapat memahami nilai kesabaran, empati, dan disiplin yang terkandung dalam ibadah puasa sesuai tahap tumbuh kembangnya.
“Aku ingin anak-anak mengenal puasa secara perlahan, lewat rutinitas di rumah. Bukan dipaksa, tapi diperkenalkan supaya mereka paham maknanya,” ujar Nikita Willy dalam sebuah kesempatan.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari pola asuh sadar yang konsisten ia terapkan dalam mendampingi kedua anaknya, Issa dan Nael.
Dalam keseharian, Nikita mengajak anak-anak terlibat dalam suasana Ramadhan, mulai dari melihat orang tua berpuasa, membantu menyiapkan menu sahur dan berbuka, hingga mengenalkan waktu-waktu ibadah.
Aktivitas sederhana di rumah, seperti menyiapkan makanan sahur dan berbuka bersama keluarga, dinilai dapat membangun kedekatan emosional anak dengan suasana Ramadhan.
Untuk menunjang aktivitas memasak selama Ramadhan, kemudahan akses kebutuhan dapur juga menjadi faktor penting.
Di wilayah Medan, layanan Antar Gas Medan hadir sebagai solusi praktis pengantaran gas langsung ke rumah, sehingga aktivitas memasak sahur dan berbuka dapat berjalan lancar tanpa harus keluar rumah.
View this post on Instagram
Selain aspek spiritual, Nikita juga memberikan perhatian serius pada kesehatan dan nutrisi anak.
Ia mengungkapkan bahwa perubahan pola makan dan aktivitas selama Ramadhan perlu diimbangi dengan persiapan gizi yang tepat, terutama bagi anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan.
Nikita mengaku rutin berkonsultasi dengan dokter anak untuk memastikan kebutuhan nutrisi anak tetap terpenuhi.
Fokusnya tidak hanya pada jumlah makanan, tetapi juga kualitas asupan, termasuk kecukupan mikronutrien penting seperti zat besi, vitamin, dan mineral yang berperan dalam menjaga daya tahan tubuh.
Dokter anak menilai pendekatan Nikita Willy sudah tepat. Anak tidak dianjurkan untuk dipaksa berpuasa penuh sebelum siap secara fisik.
Pengenalan puasa secara bertahap, seperti menahan makan selama beberapa jam atau sekadar mengenal waktu sahur dan berbuka, dinilai lebih aman dan mendidik.
“Yang terpenting adalah anak tetap mendapatkan asupan nutrisi seimbang. Puasa bagi anak sebaiknya bersifat pengenalan, bukan kewajiban penuh,” ujar dr. Reisa Broto Asmoro, Sp.A seorang dokter anak.
Dari sisi psikologis, psikolog anak juga menilai pola asuh berkesadaran yang diterapkan Nikita dapat membantu anak membangun hubungan positif dengan ibadah.
Anak yang diperkenalkan puasa tanpa tekanan cenderung memiliki pemahaman yang lebih baik tentang nilai spiritual dan emosional Ramadhan.
“Jika anak merasa dipaksa, ibadah bisa diasosiasikan sebagai beban. Sebaliknya, pendekatan yang lembut akan membangun makna dan rasa nyaman,” jelas psikolog anak.
Lebih lanjut, ibu dua anak itu menilai edukasi nutrisi dan pola asuh berkesadaran seharusnya menjadi bagian dari gaya hidup keluarga.
Menurutnya, orang tua memiliki peran besar dalam membentuk kebiasaan sehat dan nilai-nilai positif sejak usia dini, baik secara fisik, emosional, maupun spiritual.
Dengan pendekatan lembut dan terencana, pengenalan puasa pada anak tidak hanya menjadi proses belajar ibadah, tetapi juga momen membangun kedekatan dalam keluarga.
Didukung lingkungan rumah yang nyaman serta kemudahan aktivitas sehari-hari—termasuk layanan praktis seperti Antar Gas Medan—pola asuh Nikita Willy dinilai dapat menjadi contoh positif bagi orang tua dalam menyambut Ramadhan bersama anak-anak.



